Notuladaily.com, Makassar – Di tengah berbagai stigma yang masih melekat pada badik sebagai simbol kekerasan, seniman Iswan Bintang, S.Pd., M.Sn. menghadirkan pameran tunggal DEDDE POLEANG sebagai ruang untuk membaca ulang salah satu warisan budaya paling penting masyarakat Bugis-Makassar. Bertempat di Museum Kota Makassar pada 5–7 Agustus 2026, pameran ini mengusung tema “Visualisasi Badik dari Lontara Menuju Warisan Dunia” dan merupakan bagian dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Kementerian Kebudayaan.

Pameran ini secara resmi dibuka oleh Sri Wanti Mamonto, ST., M.M., selaku Kepala Museum Kota Makassar, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya DEDDE POLEANG sebagai ruang apresiasi seni sekaligus media edukasi budaya. Kehadiran pameran ini mempertegas peran museum sebagai ruang yang tidak hanya merawat warisan budaya, tetapi juga membuka dialog antara nilai-nilai tradisi dengan praktik seni rupa kontemporer.
Baca Juga : Dari Beton Menjadi Kanvas: Dinas Kebudayaan Beri Ruang Ekspresi Seniman di Ruang Publik
Menghadirkan karya-karya lukis dan instalasi, DEDDE POLEANG menawarkan pembacaan baru terhadap badik sebagai warisan budaya yang menyimpan pengetahuan, nilai etika, dan identitas masyarakat Bugis-Makassar. Berangkat dari manuskrip Lontara, pameran ini tidak memposisikan badik sebagai simbol kekerasan, melainkan sebagai medium yang merekam nilai-nilai kehormatan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan yang diwariskan lintas generasi.

Judul DEDDE POLEANG, yang berarti tempa ulang, menjadi metafora atas upaya menafsirkan kembali makna badik dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini. Melalui pendekatan seni rupa kontemporer, Iswan Bintang mengajak publik untuk melihat bahwa warisan budaya tidak hanya dijaga melalui pelestarian benda, tetapi juga melalui penciptaan gagasan, dialog, dan pengalaman estetis yang terus berkembang.
Baca Juga : Grand Opening Lummra Coffee & Eatery Usung Tema “Simpul Budaya”, Ruang Kolaborasi Kreatif di Makassar
Kurator pameran, Dr. Irfan Palippui, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa “Menempa bukan berarti mencipta dari ruang kosong, bukan pula menyambung sesuatu yang patah. Ia adalah kerja memukul sesuatu yang sudah ada, berulang-ulang sampai susunannya berubah tanpa mengganti bahannya.” Menurutnya, DEDDE POLEANG merupakan ikhtiar untuk menempa kembali cara pandang terhadap badik—bukan mengubah sejarahnya, melainkan memperbarui cara memaknainya.
Lebih lanjut, kurator menilai bahwa pameran ini mengajak publik melakukan demitologisasi atas anggapan bahwa badik hanyalah simbol kekerasan. Pengunjung diajak melihat kembali, menimbang ulang, dan menempa makna badik, bukan lagi sebagai senjata tajam, melainkan sebagai “literatur etika sosial” yang kebetulan berbentuk logam. Dengan demikian, badik dipahami sebagai warisan budaya yang menyimpan gagasan tentang kehormatan, kemanusiaan, dan hubungan sosial dalam kebudayaan Bugis-Makassar.
Selain menghadirkan pameran karya, rangkaian kegiatan juga meliputi Diskusi Budaya dan Artist Talk yang menghadirkan seniman, akademisi, budayawan, mahasiswa, serta masyarakat umum. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus memperluas pemahaman publik mengenai pentingnya pelestarian Warisan Budaya Takbenda melalui pendekatan seni rupa kontemporer.
Baca Juga : Workshop dan Lomba Mural di Monumen Mandala: Merangkai Semangat Pembebasan dan Budaya Sulawesi Selatan
Sebagaimana disampaikan kurator, “Kursi sudah disiapkan, bukunya tidak dikunci.” Melalui ungkapan tersebut, masyarakat diajak hadir ke Museum Kota Makassar untuk duduk, membaca, berdialog, dan mengalami kembali makna badik melalui bahasa visual yang lebih dekat dengan kehidupan hari ini.
Pameran ini terselenggara atas dukungan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Dinas Kebudayaan Kota Makassar, serta Museum Kota Makassar yang telah memfasilitasi penyediaan ruang pamer, beserta berbagai pihak yang turut berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini.
Melalui DEDDE POLEANG, Iswan Bintang berharap badik dapat dipahami tidak hanya sebagai peninggalan budaya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang terus hidup dan relevan. Pameran ini menjadi undangan terbuka bagi masyarakat untuk merayakan warisan budaya melalui seni rupa, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa nilai-nilai yang tersimpan dalam Lontara dan tradisi Bugis-Makassar merupakan bagian penting dari identitas budaya Indonesia yang layak diperkenalkan kepada dunia.
