0%
logo header
Rabu, 18 Februari 2026 14:40

Grand Opening Lummra Coffee & Eatery Usung Tema “Simpul Budaya”, Ruang Kolaborasi Kreatif di Makassar

Rafael Elfano
Editor : Rafael Elfano
Grand Opening Lummra Coffee & Eatery Usung Tema “Simpul Budaya”, Ruang Kolaborasi Kreatif di Makassar
Grand Opening Lummra Coffee & Eatery Usung Tema “Simpul Budaya”, Ruang Kolaborasi Kreatif di Makassar

Notuladaily, Makassar – Grand opening Lummra Coffee & Eatery berlangsung berbeda dengan mengusung tema “Simpul Budaya”, Sabtu (15/2/2026), di Kota Makassar. Peresmian ini tidak sekadar seremoni pembukaan kafe, tetapi dirancang sebagai ruang temu gagasan, kolaborasi, dan pertumbuhan ekosistem kreatif lokal.

Mengangkat konsep “Simpul Budaya”, Lummra memposisikan diri sebagai ruang yang mempertemukan nilai tradisi dan ekspresi kontemporer. Dalam suasana hangat khas kafe, tempat ini diharapkan menjadi simpul yang mengikat rasa, cerita, dan identitas budaya lokal dalam satu ruang interaksi yang dinamis.

Baca Juga : Workshop dan Lomba Mural di Monumen Mandala: Merangkai Semangat Pembebasan dan Budaya Sulawesi Selatan

Acara pembukaan turut menghadirkan seniman visual muda Makassar, Iswan Bintang, yang menampilkan live mural performance sekaligus pameran karya. Melalui mural yang digarap secara langsung, pengunjung dapat menyaksikan proses kreatif penerjemahan gagasan budaya ke dalam visual kontemporer yang ekspresif dan reflektif.

Selain pertunjukan visual, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan sesi diskusi menghadirkan dua narasumber lintas disiplin, yakni Iswan Bintang dan arkeolog Basran Burhan. Dalam pemaparannya, Iswan membagikan proses kreatifnya dalam mereinterpretasi nilai-nilai budaya melalui bahasa rupa modern. Ia menekankan pentingnya ruang alternatif seperti Lummra sebagai wadah eksperimen dan jejaring bagi seniman muda.

Baca Juga : Iswan Bintang dan Dekonstruksi Makna Siri’: Badik sebagai Gagasan Estetik dalam Seni Rupa Kontemporer

Sementara itu, Basran Burhan mengulas jejak panjang kebudayaan Sulawesi Selatan, termasuk keterlibatannya dalam penelitian lukisan gua prasejarah di kawasan Leang Tedongnge, Kabupaten Maros. Ia menjelaskan bahwa temuan tersebut menjadi bukti praktik visual telah hadir dalam peradaban manusia sejak puluhan ribu tahun lalu. Menurutnya, kesinambungan antara seni purba dan seni kontemporer menunjukkan bahwa ekspresi visual merupakan naluri kebudayaan yang terus hidup dan berkembang.

Dialog antara seniman dan arkeolog tersebut memperkaya makna “Simpul Budaya”, bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan proses yang terus ditafsirkan ulang melalui ruang-ruang kreatif.

Dengan konsep tersebut, Lummra Coffee & Eatery menegaskan posisinya bukan sekadar ruang konsumsi, melainkan ruang produksi makna—tempat kopi diseduh bersama gagasan, kolaborasi dirajut melalui perbincangan, dan budaya tumbuh lewat pertemuan lintas generasi.

Baca Juga : Iswan Bintang dan Dekonstruksi Makna Siri’: Badik sebagai Gagasan Estetik dalam Seni Rupa Kontemporer

Kehadiran Lummra diharapkan menjadi simpul baru dalam lanskap kreatif Makassar, yang menghubungkan rasa, rupa, dan sejarah dalam satu perayaan yang inspiratif.